Sistem Informasi Perpustakaan Digital
Tri Septiantono
Beberapa Definisi Perpustakaan
Digital
Dalam kurun waktu dua dasa warsa terakhir, dunia perpustakaan banyak sekali membahas tentang perubahan yang terjadi dalam dunia perpustakaan. Perubahan itu tidak hanya karena munculnya format-format baru koleksi, namun juga teknologi informasi yang melatarbelakangi apa yang sekarang sering disebut sebagai perpustakaan digital. Namun demikian perpustakaan digital seringkali dipahami dalam arti yang sangat sempit, yaitu perpustakaan yang menggunakan fasilits komputer sebagai alat untuk memberikan pelayanan. Apa yang dilakukan oleh perpustakaan pada dua dasa warsa yang lalu—yang sering disebut sebagai automasi—berbeda dengan perpustakaan digital.
Perpustakaan digital telah
didefinisikan antara lain oleh Lesk (1997), Arms (2000) dan Digital Libraries Federation.
Lesk mendefinisikan perpustakaan sebagai berikut:
Menurut Lesk (1997):
"Digital
libraries are organized collections of digital information. They combine the
structuring and gathering of information, which libraries and archives have
always done, with the digital representation that computers have made
possible.” (Lesk, 1997)
Sementara itu menurut Arms (2000), perpustakaan digital adalah sebagai berikut:
“Digital library is a managed collection of information, with associated services, where information is stored in digital formats and accessible over a network.” (Arms, 2000)
Sedangkan menurut Digital Libraries Federation di Amerika Serikat, Perpustakaan Digital didefinisikan sebagai berikut:
“Digital
libraries are organizations that provide the resources, including the specialized staff, to select,
structure, offer intellectual access to, interpret, distribute, preserve the
integrity of, and ensure the persistence over time of collections of digital
works so that they are readily and economically available for use by a defined
community or set of communities.” Digital
Libraries Federation (DLF)
Dari ketiga definisi di atas, dapat dimengerti bahwa perpustakaan digital lebih menekankan adanya koleksi digital dan perpustakaan tersebut dapat diakses selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu baik di dalam perpustakaan maupun jarak jauh tanpa harus datang ke perpustakaan secara fisik. Tidak kalah penting adalah adanya jaringan antar perpustakaan.
Munculnya Perpustakaan Digital
Di dalam ilmu perpustakaan, sistem informasi digital muncul mengikuti perkembangan yang terjadi secara berurutan. Dalam dua dasa warsa yang lalu, hadir apa yang disebut dengan database katalog induk perpustakaan. Di Indonesia pada waktu itu dimulai dengan adanya software CDS/ISIS dari UNESCO. Ini adalah awal dari munculnya perpustakaan digital. Catalog ini kemudian dimunculkan secara online melalui gopher atau yang sekarang dikenal dengan nama Internet.
Sejak saat itu,
dimulailah kegiatan yang mengarah pada penyediaan
sumber-sumber informasi
yang dikemas langsung dalam format terkomputerisasi, antara lain adalah penyediaan sumber informasi elektronik untuk referensi secara full-text. Ini pun awalnya dilakukan
oleh penerbit dalam kemasan disket
dan CD-ROM. Di Indonesia CD-ROM menjadi booming di pertengahan tahun 90an.
Dengan adanya internet di pertengahan tahun 90an
tersebut, maka penerbi juga beralih ke penyediaan sumber informasi yang dikemas
secara online dan perpustakaan pun mulai beralih dari pembelian ke langganan
sumber informasi secara online. Jurnal-jurnal mulai beralih ke online atau dibuat dalam dua versi. Dan
jurnal-jurnal yang ditawarkan tersebut kemudian dikemas dalam apa yang disebut
dengan database (berisi kumpulan jurnal-jurnal dalam berbagai bidang) dan
ditawarkan ke perpustakaan dengan harga yang lebih murah.
Tidak kalah penting adalah
perkembangan dalambentuk komunikasi ilmiah secara online, yakni dengan semakin
banyaknya orang menggunakan fasilitas online, termasuk di dalamnya, prosiding
seminar yang dapat dibaca secara online, makalah-makalah yang dapat dibaca
secara online, dan sebagainya. Dan perpustakaan juga berkembang dengan
penyediaan sumber informasi yang dapat diakses secara full-text melalui
internet sehingga orang tidak harus datang ke perpustakaan untuk dapat
memperoleh sumber informasi yang diinginkan. Hal ini juga yang menjadikan
jumlah kunjungan perpustakaan tidak hanya dihitung berdasarkan jumlah orang
yang datang ke perpustakaan secara fisik, melainkan juga jumlah akses ke situs
webperpustakaan.
Di satu sisi, penerbit menyediakan
sumber informasi yang dikemas dalam bentuk database dan di sisi lain,
perpustakaan juga membuat konsorsium maupun jaringan dalam bentuk online. Dan
hal ini kemudian menjadikan konten sebuah perpustakaan semakin besar karena
tidak hanya koleksinya sendiri yang dapat diakses melainkan juga koleksi yang
dimiliki oleh perpustakaan lain.
Definisi perpustakaan digital kemudian
ditambahkan, bahwa perpustakaan digital merupakan perpustakaan jaringan—bukan
sebuah perpustakaan yang memiliki situs web dan berdiri sendiri. Perpustakaan digital adalah jaringan
perpustakaan yang dilayankan secara online dan dapat diakses 24/7.
Manfaat Perpustakaan Digital
Dalam perpustakaan konvensional, pemakai harus
dating ke perpustakaan untuk mendapatkan sumber informasi yang dibutuhkan. Tetapi
dalam perpustakaan digital, justru perpustakaan yang datang ke pemakai melalui
jaringan internet. Selain itu, dengan adanya jaringan perpustakaan (secara
maya) maka lebih banyak perpustakaan yang dapat dimanfaatkan.
Tidak kalah penting dalam jaringan tersebut adalah
adanya resource sharing (berbagi sumber informasi untuk pemakai dari berbagai
lembaga serta adanya sambungan ke sumber-sumber informasi tertentu dalam jumlah
banyak (linking). Sumber-sumber informasi dalam dunia maya perpustakaan digital
dapat selalu diperbarui oleh pustakawan dengan cepat sehingga informasi yang
disajikan selalu baru. Demikian pula sumber informasi yang ditawarkan oleh
penerbit secara online juga selalu diperbarui dalam waktu yang sangat cepat dan
real time. Selain itu, format-format baru sumber informasi juga dapat diwadahi
dalam perpustakaan digital ini.
Penelusuran yang dilakukan dengan katalog online
memungkinkan orang untuk menelusur informasi dari jarak jauh dan tidak harus
datang ke perpustakaan, sehingga bisa menghemat waktu pemakai. Dengan
perpustakaan digital maka layanan tidak pernah tutup (kecuali aliran listriknya
mati) karena semua sumber informasi dapat diakses dalam 24 jam 7 hari seminggu
tanpa harus ditunggui oleh petugas perpustakaan.
Membangun perpustakaan digital akan dapat
menghemat biaya yang besar pada akhirnya. Namun perlu diingat bahwa untuk
membangun sebuah perpustakaan digital dibutuhkan biaya yang cukup besar
terutama untuk penyediaaan sarana dan prasarana perpustakaan digital. Apakah
ini bisa dilakukan? Tentu saja jawabannya tergantuk dari stakeholder.
Tantangan Perpustakaan Digital
Perpustakaan digital melibatkan berbagai objek tak
kasad mata. Semua koelksi perpustakaan digital tidak dapat dibaca tanpa adanya
alat bantu (komputer). Hal inilah mungkin yang kadang jadi kendala dalam masa
transisi dari full-paper ke paperless. Hal ini dapat dirasakan pada waktu
berlangganan database. Semua database yang berisi jurnal-jurnal tersebut tidak
kasad mata sehingga di mata auditing konvensional, hal ini tidak dapat
dipertanggungjawabkan. Namun dalam dunia digital, hal itu jelas sekali dan
pertanggungjawabannya juga tidak rumit. Hal ini kembali tergantung dari manusia
dan sistemnya.
Perpustakaan digital sebetulnya merubah paradigma
dari pengadaan koleksi yang kasad mata, menjadi penyediaan akses. Seperti
layaknya orang membeli pulsa, dimana orang tidak pernah melihat pulsanya tetapi
dapat menggunakan pulsa tersebut untuk digunakan sebagai alat komunikasi.
Demikian pula halnya dengan langganan database jurnal yang tidak dapat dilihat
dan dipegang tetapi dapat dibaca secara online dan koleksi tersebut secara fisik
memang tidak ada di perpustakaan.
Dengan adanya perpustakaan digital maka sumber
informasi yang hanya satu kopi dapat adibaca secara bersama-sama dalam waktu
yang sama pula sehingga tidak ada kata ’pesan ke perpustakaan’ lagi. Tidak ada
kata ’menunggu’ sampai koleksi tersebut dikembalikan ke perpustakaan dan baru
bisa dipinjam. Perpustakaan digital juga dapat menjembatani digital divide.
Orang yang tidak biasa menggunakan komputer ’terpaksa’ harus menggunakannya
untuk dapat membaca koleksi yang ada di dalamnya. Sehingga mau tidak mau semua
pemakai harus belajar menggunakan komputer ini. Tugas pustakawan pun juga
bertambah. Tidak hanya menunjukkan lokasi sumber informasi melainkan juga
menunjukkan bagaimana car mengakses sumber informasi tersebut melalui komputer.
Orang yang tidak menghendaki adanya teknologi informasi ’terpaksa’ ditolak
untuk ikut memanfaatkan perpustakaan digital, kecuali mereka mau belajar
memanfaatkan dan menggunakan fasilitas tersebut.
Intinya, perpustakaan digital telah merubah dari bentuk
cetak ke digital, koelski yang semula lokal (hanya ada di perpustakaan
setempat) kini dapat menjadi internasional karena adanya jaringan perpustakaan
dan karena adanya link dengan sumber informasi yang berada di kota atau negara
lain. Tidak kalah penting adalah adanya perubahan dimana koleksi dulu selalu
lebih aman karena berada di tempat, kini koleksi tersebut tidak selalu ada di
tempat dan apabila server sedang ’down’ maka sumber informasi tersebut bisa
jadi tidak dapat diakses.
Perpustakaan digital telah merubah paradigma
perpustakaan dari layanan oleh petugas menjadi pemberdayaan pustakawan dalam
membantu pemakai perpustakaan yang membutuhkan sumber informasi secara cepat.
Dan dengan jumlah sumber informasi yang tidak terbatas tersebut, maka beban
penelusuran pustakawan (maupun pemakai) semakin besar.
Perpustakaan digital dan automasi
Pustakawan maupun pemakai perpustakaan dan juga
stakeholder perlu mengetahui bahwa automasi perpustakaan bukan berarti
membangun perpustakaan digital.
Automasi adalah pemanfaatan teknologi
(informasi) untuk memudahkan pelayanan yang telah disediakan. Sedangkan
Perpustakaan digital adalah pelayanan
perpustakaan dalam bentuk koleksi digital yang dapat diakses di perpustakaan
maupun jarak jauh
Jadi dalam automasi, koleksi perpustakaan tidak
berubah; sedangkan dalam perpustakaan digital, koleksinya pun juga tidak lagi
dalam bentuk tercetak.
Pengembangan Perpustakaan:
Dalam mengembangkan perpustakaan perlu ada
pemikiran lebih lanjut, apakah perpustakaan tersebut akan sepenuhnya diubah
menjadi perpustakaan digital atau tetap mempertahankan koleksi cetak yang sudah
ada dan menambah sumber informasi digital.
Perpustakaan yang memiliki koleksi dalam bentuk
cetak dan digital sering disebut dengan perpustakaan hybrid (hibrida), bukan
perpustakaan digital sepenuhnya. Koleksi cetak dikembangkan dengan fasilitas
automasi, sedangkan koleksi digital dilayankan secara online.
Secara singkat dapat digambarkan sebagai berikut:
Perpustakaan Digital: Sepenuhnya dalam format digital
Perpustakaan Hybrid: Koleksi cetak tetap ada,
ditambah digital
Perpustakaan Konvensional Terautomasi: koleksi
cetak dgn layanan terautomasi
Perpustakaan Konvensional: koleksi cetak
dgn layanan manual
Pada umumnya perpustakaan-perpustakaan di dunia
tidak berubah seratus persen menjadi perpustakaan digital, tetapi banyak yang
menyebutkan sebagai perpustakaan hybrid atau perpustakaan dengan koleksi
tercetak dan digital. Pada umumnya perpustakaan:
tetap membeli bahan pustaka dalam
bentu tercetak
Melanggan database komersial secara online
Mendijitalkan koleksi yang ada (menambah
unit scanning)
Meminta sivitas akademika menyerahkan
koleksi dalam bentuk digital (CD)
Menambah layanan online delivery
(layanan full-text articles)
Tetap memiliki perpustakaan yang luas
untuk pelayanan perpustakaan
Dalam rangka membangun perpustakaan hybrid atau
digital, maka digitasi sangat diperlukan oleh sebuah perpustakaan. Untuk itu,
perpustakaan yang sedang dalam taraf menuju perpustakaan digital maupun hybriid
sebaiknya mulai membuka satu unit di dalam perpustakaan khusus untuk scanning
koleksi cetak yang sudah ada seperti
-
skripsi mahasiswa
-
tugas akhir mahasiswa
-
hasil penelitian dosen
- skripsi/tesis/disertasi dosen
-
makalah presentasi sivitas akademika
- prosiding
- jurnal UIN
Dengan di-digitasi-kannya koleksi tersebut maka
koleksi baru dan koleksi lama dapat disatukan dengan wadah digital yang sama
dan tidak terpisahkan. Tidak kalah penting adalah untuk membuat aturan bagi
para sivitas akademika yang menyerahkan bahan pustaka dalam bentuk digital,
misalnya:
Skripsi harus diserahkan dalam bentuk CD
atau flashdisk atau melaui email (?)
Tugas akhir dalam bentuk CD/flashdisk/email(?)
Penyerahan makalah dosen/mhs dalam bentuk digital
Jurnal UIN dimuat dalam website termasuk koleksi arsipnya
Jangan lupa bahwa sebuah perpustakaan hybrid
maupun perpustakaan digital HARUS memiliki situs web dan harus ada seorang
pustakawan yang khusus menangani situs web tersebut (webmaster) yang bertugas
untuk meng-update informasi terbaru dari perpustakaan; menginformasikan
berbagai kegiatan lembaga; mencari sumber-sumber informasi di internet untuk
dibuat link, dan sebagainya.
Perpustakaan juga harus mulai memikirkan untuk melanggan
database maupun ebooks. Database yang banyak ditawarkan publisher ke Indonesia
untuk bidang kesehatan dan kedokteran antara lain adalah:
ProQuest Medical Library
EBSCO
Medical Database
American
Chemical Society (ACS)
ScienceDirect Biomedicine
Penutup
Dalam membangun sebuah perpustakan modern—baik perpustakaan
hybrid maupun perpustakaan digital--sangat penting bagi perpustakaan tersebut
untuk:
Membangun sebuah Website Perpustakaan
lengkap dengan pustakawan yang menjadi webmaster.
Software automasi pelayanan web-based
sehingga catalog dan koleksi dapat dibaca ataupun ditelusur secara online
Security system di dalam perpustakaan
sebaiknya juga menyatu dengan software yang digunakan untuk pelayanan.
System librarian harus disiapkan agar
perpustakaan tidak mengalami hambatan-hambatan kecil dalam kaitannya dengan
teknologi informasi.
Digitizing unit juga harus disiapkan untuk
menyatukan koleksi lama dengan koleksi baru dalam format digital.
PC/WIFI area akan sangat baik kalau bias
disediakan di perpustakaan maupun campus-wide, mengingat perpustakaan tidak akan
mampu menyediakan banyak computer untuk seluruh sivitas akademika yang dating
ke perpustakaan. Juga, karena saat ini banyak sivitas akademika yang membawa
laptop, subnote maupun PDA yang dapat tersambung dengan koneksi nirkabel.
Referensi dan bacaan terkait:
Gladney
H.M, et. al. (1994)
Digital library: Gross structure and requirements: Report from a workshop. IBM
Research Report, RJ 9840, May 1994.
Borgman
C.L (1999) What are digital libraries? Competing visions. Information
Processing and Management, 35 (3), 227-43.
Digital Library Initiative, FY 1994 (1993)
A Joint Initiative of the National Science Foundation, the Advanced Research
Projects Agency, and the National Aeronautics and Space Administration.
Association of Research Libraries (1995) Definition and Purpose of a
Digital Library.
Available: http://www.ifla.org/documents/libraries/net/arl-dlib.txt
[2003 June 24].
Deegan, M
and Tanner S. (2002) Digital Futures: Strategies for the information age,
Chowdhury GG and Chowdhury S (2003) Introduction to Digital Libraries.
Braud,
R.M (1999) Virtual or actual: the term library is enough, Bulletin of the
Medical Librarians Association, 87(1): 85-7
Kuny,
Terry & Cleveland,
http://www.ifla.org/IV/ifla62/62-kuny.pdf.
[2003 June 24].
Dempsey L. et al (1998) eLib
Standards guidelines version 2.0. Available at :
http://www.ukoln.ac.uk/services/elib/papers/other/standards/version2/
Library of Congress. National Digital Library Program (2003). Challenges to Building an Effective Digital Library. [Online]. Available at: http://memory.loc.gov/ammem/dli2/html/cbedl.html
[24 Jul. 03].
McGray, Alexa T.
& Gallagher, Marie E (2001) Principles for Digital Library Development. Communications of the ACM,
44(5), pp. 49-54. Available:
http://lhncbc.nlm.nih.gov/dlb/pubs/200105_cacm_mccray.pdf
Kahn, R and Wilensky, R (1995) A framework for
distributed digital object services. Available at
http://www.cnri.reston.va.us/home/cstr/arch/k-w.html
Arm, W.Y (1995) Key Concepts in the architecture of the digital library. D-Lib Magazine,
1(1), July.
Available at http://www.dlib.org/dlib/july95/07arms.html